Rabu, 09 Maret 2016

Segitiga Pascal (USB Gunadarma 2016)

Hari Kamis jam 8.30 diadakan seleksi lomba live coding USB 2016. Peserta diminta membuat program segitiga pascal bagi yang akan mengikuti lomba live coding USB 2016. Untuk angkatan 3&4 maka menggunakan bahasa Java, sedangkan tingkat 1&2 menggunakan bahasa QBasic.
Pertama para peserta ditunjukkan output segitiga pascal yang kira-kira begini bentuknya :


Sebagai input, user bisa memasukkan jumlah tingkat yang diinginkan.
Gambar di atas menunjukkan user memasukkan 7 sebagai jumlah tingkat yang diinginkan.

Nah, jika kita sudah mengerti sedikit tentang segitiga Pascal ini, berikut kodingan java segitiga pascal

import java.util.Scanner;
class livecod{
public static void main(String[] args) {
Scanner scan = new Scanner(System.in);
System.out.print("Masukkan banyak tingkat? ");
int t = scan.nextInt();
for(int i = 1; i<=t;i++){
    for(int j = i; j>=2*t;j++) //memberikan spasi di awal
     System.out.print(" ");
    for(int k = 1;k<=i;k++) //memberi isi segitiga pascal
     System.out.print(" "+bil(i,k)+" ");
    System.out.println("");
} 
}
public static int bil(int tingkat, int posisi) {
 if(posisi==1 || posisi ==tingkat) 
    return 1;
 return bil(tingkat-1,posisi-1) + bil(tingkat-1,posisi); //proses rekursif
}
}

Berikut adalah hasil outputnya dengan input=10

Rabu, 02 September 2015

Video Review : Future Store

Before I explain my review about the video, let's see the video first

So here is my review about the video, enjoy :)
 
Smart Washing Machine
The machine can know what clothes are you put into it. Because there is a tag in the cloth which can be read by the machine. It also can warn you if there is a bad possibility if you put wrong cloth in to the machine.

Smart Fridge
The fridge can recognize the items inside it, and tell the user if there is item that will run out of stock.

Electronic Shopping
It is a service provided by the internet and the user / buyer can buy items easily.

Future Card
This card can save your identitiy, your loyalty points ,shopping list, etc.

Smart Trolley
The trolley can recognize its contents  and calculate the prices.

Smart Shelves
These Shelves can communicate with the officer terminal and tell them if there are goods to be discharged. Then the employee will be received the message from the terminal.
Smart Information Terminal
It provides many ingredients information from the database and it can send to our mobile phone or web.

Everywhere Display
The floor can display the product that customer looking for.

Advertising Display
The shelf have a panel that can display an animated adverts from the product in that shelf.
Cheese RFID seller can know who is the seller.

Smart Dressing Room
This machine can show yourself if you use the clothes that you put at the machine. You also can pick the colour that suits you.

Smart Mirror
This mirror will take your picture and simulates the product to your picture. In this video the example is make-up that can be tried by the woman. The mirror takes picture of the woman and then apply the change to the woman's picture. The woman also can choose the color that suits her. In the end, the machine will print out the things that you need to apply the change as the picture before.

All prices and goods are already known by the cashier. The cashier don’t have keyboard, so he can’t cheat the customer. After the customer finish the transaction, he can choose to deactivate the chip in the smart card or no, so he can back buy the things in the store.

This video explained much about our future store. The things can communicate with each other by available network. And it also can make us do the job easily.

Senin, 03 Agustus 2015

[Tutorial] Cara Menggunakan Clash GameBot


Welcome para clasher !
Kali ini saya mau posting yang beda dikit dari pelajaran kuliah terus :D

Yak, untuk kalian yang mencari elixir, gold atau dark elixir sedangkan kalian lagi sibuk nyari tugas, atau lagi sibuk bikin makalah, nah ini saya punya salah satu obat biar kampung kalian bisa tetap dapat asupan yang mumpuni :D

Sebelum mulai pasang GameBot, ada baiknya kalian sudah mendownload semua tools berikut :

1. Download BlueStacks yang sudah di root : disini (Harus BlueStacks yang sudah di root !)
2. Microsoft .NET Framework 4.5 : disini
3. Microsoft Visual C++ 2010 Redistributable Package (x86) : disini
4. Clash GameBot versi terbaru : disini

Ok, itu saja sudah cukup.

0. Install Microsoft .Net dan Microsoft Visual C++ yang sudah anda download
1. Sekarang kita mulai pasang BlueStacks yang sudah di root tadi.
2. Extract file yang sudah kamu download, lalu jika kamu sudah punya BlueStacks sebelumnya, jalankan "RUN ME FIRST.bat" kemudian jalankan file instalasinya, namun jika sebelumnya kamu TIDAK PERNAH INSTALL bluestacks, langsung saja jalankan file instalasinya "BlueStacks App Player... . msi"
3. Selesai install, jalankan BlueStacks kemudian download CoC dari PlayStore.
4. Buka CoC, kemudian setelah CoC selesai me-load kampung anda, jalankan "Run Me Last.bat" sebagai Administrator (Klik Kanan -> Run As Administrator) yang ada di folder yang telah anda ekstrak sebelumnya.
5. Buka file ClashGameBot yang sudah anda download sebelumnya, lalu ekstrak file tersebut
6. Di dalam folder yang sudah anda ekstrak, jalankan file "Gamebot.org.exe"
7. Taraa... It's Done ! Ketika pertama menjalankan bot, maka anda akan diminta menentukan TownHall, Barrack, dan lainnya. Selanjutnya bot ini akan berjalan secara otomatis.
8. Jangan lupa atur pasukan yang akan anda buat secara otomatis di tab "Troops", its easy bro !


Thanks gamebot.org !

Jumat, 15 Mei 2015

Minggu, 10 Mei 2015

Tugas Pertama SOD 2

ini program dibuat menggunakan bahasa C.

1. Menghitung banyaknya huruf A/a yang ada di kalimat


2. Menghitung banyak kata di kalimat


3. Menghitung banyak huruf tanpa spasi di kalimat

Kode Program :

belajar yaa sob biar ngarti ! :D

Selasa, 05 Mei 2015

Intro SARMAG Gunadarma

# Sore di 14 April 2015

SMS masuk, "Yth. Sdr. MUHAMMAD ADI D... kami TERIMA dlm prg SARMAG ... "
udah 3 minggu sejak tes SARMAG, dan SMS itu baru masuk.

# Ba'da Shalat Jum'at 17 April 2015

Di briefing pertama ini kita dijelaskan kalo SARMAG ini kita jalanin selama 3 tahun ke depan.
Jadi 1,5 tahun utk S1, dan 1,5 tahun utk S2. Selama S1 kita akan dikasih uang saku 800rb, dan diwajibkan jadi asisten di salah satu lab di gundar. Lalu selesai lulus S1, kita akan menjadi dosen sekaligus kuliah di S2. Selama menjadi dosen ini kita mendapat gaji pokok 2,5 jt. Belum ditambah honor waktu kita mengajar di kelas.


# Pagi hari Senin 20 April 2015

Dengan diselimuti map cokelat, kelengkapan untuk SARMAG udah siap disetorkan di gedung 2 lantai 2 kampus D. Tinggal menunggu briefing selanjutnya untuk pembagian kelas dan lainnya.

 #4 Mei 2015
perkuliahan pertama dimulai. Mesti nembus kemacetan yang sumpek dan berjubel kalo senin pagi begini .

Senin, 16 Maret 2015

Peran Komunikasi dalam Organisasi

Pengertian dan Arti Penting Komunikasi 
source : http://www.technovativesolutions.co.uk/file/communication_technology.html

  • Komunikasi menurut Seiler (1988) lebih merupakan cuaca yang terjadi dari bermacam-macam variabel yang kompleks dan terus berubah. Kadang-kadang cuaca hangat, matahari bersinar, pada waktu yang lain, cuaca dingin, berawan dan lembab. Keadaan cuaca merfleksikan suatu variasi saling berhubungan yang kompleks tidak pernah pernah ada duplikatnya.

  • Frank E.X. Dance (1976), seorang sarjana Amerika yang menekuni bidang komunikasi, menginventarisasi 126 definisi komunikasi yang berbeda-beda, dan dari definisi-definisi tersebut terdapat 15 komponen konseptual pokok. Yaitu :

    1. Simbol-simbol verbal/ujaran
      Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal (Hoben, 1954)
    2. Pengertian/Pemahaman
      Komunikasi adalah proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dansecara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku
    3. Interaksi/hubungan/proses sosial
      Interaksi, juga dalam tingkatan biologus adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpa komunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi (Mead, 1963)
    4. Pengurangan rasa ketidakpastian
      Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego (Barnlund,1934)
    5. Proses
      Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dll,melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata,gambar-gambar dll (Barelson,1964)
    6. Pengalihan/penyampaian/pertukaran
      Penggunaan kata komunikasi tampaknya menunjuk kepada adanya sesuatu yang dialihkan dari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya. Kata komunikasi kadang-kadang menunjuk kepada apa yang dialihkan, alat apa yang dipakai sebagi saluran pengalihan, atau menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan. Dalam banyak kasus, apa yang dialihkan itu kemudian menjadi milik atau bagian bersama. Oleh karena itu komunikasi juga menuntu adanya partisipasi (Ayer, 1955).
    7. Menguhubungkan/menggabungkan
      Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dalam kehidupan dengan bagian lainnya (Ruesch, 1957)
    8. Kebersamaan
      Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih (Gode, 1959)
    9. Saluran/alat/jalur
      Komunikasi adalah alat pengiriman pesan-pesan kemiliteran/ order, dan lain-lain, seperti telegraf, telepon, radio, kurir, dan lain-lain (American College Dictionary)
    10. Replikasi memori
      Komunikasi adalah proses yang mengarahkan perhatian seseorang dengan tujuan mereplikasi memori (Cartier dan Harwood, 1953)
    11. Tanggapan diskriminatif
      Komunikasi adalah tanggapan diskriminatif dari suatu organisme terhadap suatu stimulus
    12. Stimuli
      Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima (Newcomb, 1966)
    13. Tujuan/kesengajaan
      Komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima (Miller, 1966)
    14. Waktu/situasi
      Proses komunikasi merupakan suatu transisi dari suatu keseluruhan struktur situasi ke situasi yang lain sesuai pola yang diinginkan (Sondel, 1956)
    15. Kekuasaan/kekuatan
      Komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan/kekuasaan (Schacter, 1951) 
    Jenis Komunikasi
    1. Komunikasi menurut cara penyampaian
    2. Komunikasi menurut kelangsungannya
    3. Komunikasi menurut perilaku
    4. Komunikasi menurut maksud komunikasi
    5. Komunikasi menurut ruang lingkup
    6. Komunikasi menurut aliran informasi
    7. Komunikasi menurut jaringan kerja
    8. Komunikasi menurut peranan individu
    9. Komunikasi menurut jumlah yang berkomunikasi 
    Proses Komunikasi
    Ada bermacam-macam komponen atau elemen dalam proses komunikasi. Kadang-kadang untuk komponen yang sama digunakan istilah yang berbeda seperti halnya ada yang menggunakan istilah informasi dan pesan untuk menyatakan komponen pesan yang dikirimkan dan begitu juga ada yang memakai istilah sender dan source untuk menyatakan orang yang mengirimkan pesan. Walaupun demikian dapat disimpulkan mana diantara bermacam-macam komponen itu yang merupakan komponen dasar komunikasi.
    Dalam hal ini ada empat komponen yang cenderung sama yaitu : orang yang mengirimkan pesan, pesan yang akan dikirimkan, saluran atau jalan yang dilalui pesan dari si pengirim kepada si penerima, dan si penerima pesan. Karena komunikasi merupakan proses dua arah atau timbal balik maka komponen balikan perlu ada dalam proses komunikasi.
    Suatu proses komunikasi terdiri dari komponen dasar sebagai berikut :
    1. Pengirim Pesan
      Pengirim pesan adalah individu atau orang yang mengirim pesan. Pesab atau informasi berasal dari dari otak yang mengirim pesan. Menciptakan pesan berarti menentukan arti apa yang akan dikirimkan kemudian menyandikan/encode arti tersebut ke dalam suatu pesan. Sesudah itu baru dikirim melalui suatu saluran.
    2. Pesan
      Pesan adalah informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima. Pesan ini dapat berupa verbal maupun non-verbal. Pesan secara verbal dapat secara tertulis seperti buku, majalah, memo, sedangkan pesan yang secara lisan dapat berupa percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon, radio dan sebagainya. Pesan yang nonverbal dapat berupa isyarat gerakan badan, ekspresi muka, dan nada suara.
    3. Saluran
      Saluran adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si penerima. Channel yang biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya dan suara yang dapat kita lihat dan dengar. Misalnya bila dua orang berbicara tatap muka gelombang suara dan cahaya di udara berfungsi sebagai saluran. Tetapi jika pembicaraan itu melalui surat yang dikirimkan, maka gelombang cahaya sebagai saluran yang memungkinkan kita dapat melihat huruf pada surat tersebut. Kertas dan tulisan itu sendiri adalah sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Kita dapat menggunakan bermacam-macam alat untuk menyampaikan pesan seperti buku, radio, film, televisi, surat kabar tetapi saluran pokoknya adalah gelombang suara dan cahaya. Di samping itu kita juga dapat menerima pesan melalui alat indera penciuman, alat pengecap dan peraba.
    4. Penerima Pesan
      Penerima pesan adalah yang menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan yang diterimanya.
    5. Balikan
      Balikan adalah respons terhadap suatu pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan. Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim, pengirim akan dapat mengetahui apakah pesan yang dikirimkan tersebut diinterpretasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim. Bila arti pesan yang dimaksudkan oleh si pengirim diinterpretasikan sama oleh si penerima berarti komunikasi tersebut efektif. Seringkali respons yang diberikan tidak seperti yang diharapkan oleh si pengirim karena si penerima pesan kurang tepat dalam menginterpretasikan pesan.
    Komunikasi Efektif
    Menurut Kelly Borth dalam "Effective Communication", komunikasi yang efektif terjadi dalam 30 detik pertama. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjadi komunikasi yang efektif adalah :
    1. Relevansi pesan
      Sebelum kita mengkomunikasikan pesan kita, maka kita perlu memahami apa yang sedang dicari oleh lawan bicara kita, apa yang hendak kita sampaikan, dan mengapa itu perlu disampaikan
    2. Pesan singkat
      Mempelajari bagaimana menangkap pesan kita dalam 3 detik adalah seuatu seni. Perlu latihan yang berulang-ulang dan butuh waktu hingga anda bisa mematangkan kemampuan ini. Reporter yang sudah senior bisa dengan cepat membentuk paragraf pertama yang menyiratkan keseluruhan isi berita secara jeli.
    3. Gambar
      Gunakan gambar yang menarik karena banyak orang yang mulai tertarik terhadap apa yang ingin kita sampaikan saat mereka melihat gambar yang menarik. Dan gambar lebih cepat mengkomunikasikan 60.000 kali lebih cepat daripada suatu tulisan. Jadi buatlah gambar yang menarik :)
    4. Video
      Video adalah media yang hebat untuk seorang pemimpin. Pada zaman sekarang, video-video berdurasi 3-4 menit mampu menyampaikan pesan yang sangat dalam kepada para penontonnya.
    5. Tampilan yang sederhana
      Tampilan-tampilan yang simpel dan elegan dapat membuat pesan kita lebih efisien dan efektif.
    Implikasi Manajerial
    Implikasi manajerial berarti cara yang dilakukan manajer untuk meningkatkan produktivitas seorang staf/bawahan untuk memenuhi suatu kebutuhan dalam organisasi/perusahaan. Implikasi manajerial dari teori expectancy dapat dijelaskan melalui tabel berikut :

    Faktor-faktor ExpectancyPertanyaan IndividuImplikasi Manajerial
    1. Expectancy Apakah saya dapat memenuhi tingkat unjuk kerja yang diinginkan ?
    • Menyeleksi pegawai yang memiliki kemampuan 
    • Melatih pegawai 
    • Memberikan dukungan sumber daya yang diperlukan 
    • Menjelaskan sasaran unjuk kerja secara jelas
    2. InstrumentalityGanjaran apa yang saya terima sebagai akibat pelaksanaan pekerjaan ?
    • Menjelaskan reward yang mungkin diterima
    • Memastikan bahwa reward yang diterima sangat tergantung pada unjuk kerja
    • Menetapkan apa yang diharapkan dari organisasi terhadap para staf/bawahan
    3. Valence Seberapa penting reward yang mungkin diterima oleh saya ?
    • Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan individu
    • Menyesuaikan reward dengan kebutuhan individu

    Sumber :
    [1] Sendjaja, S.Djuarsa, dkk. 1994. "Teori Komunikasi". Jakarta: Universitas Terbuka.
    [2] Nawangsari, Sri. "Komunikasi Bisnis". Universitas Gunadarma.
    [3] Borth, K. 2012. EFFECTIVE COMMUNICATION. Smart Business Columbus, 20(8), 6. Tersedia dalam: http://search.proquest.com/docview/1018375703?accountid=25704. Diakses: 15 Maret 2015.
    [4] Muhammad, Arni. 2002. "Komunikasi Organisasi". Jakarta: Bumi Aksara.
    [5] Hariandja, M.T.E. 2007. "Manajemen Sumber Daya Manusia". Jakarta: Grasindo.

    Rabu, 11 Maret 2015

    cara membuat aplikasi jadwal di android

    ini tulisan sederhana tentang membuat aplikasi jadwal kuliah di android supaya ga ribet buka galeri dulu baru bisa liat jadwal, ekeke

    ini yang kita butuhkan :
    1. IDE android (saya pake eclipse Juno)
    2. kesabaran

    dalam membuat apps ini saya menggunakan referensi adapter dari sini yang dibuat oleh Revi Tamada.

    1. Buat sebuah project android baru, File -> New -> Project -> Android Application Project

    2. Next terus, saya tetap menggunakan nama default activity nya MainActivity. Klik next sampai finish muncul.

    3. Buka activity_main.xml yang ada di res-> layout -> 

    dan edit seperti berikut ini

    <?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
    <LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
        android:layout_width="fill_parent"
        android:layout_height="fill_parent"
        android:orientation="vertical"
        android:background="#f4f4f4" >
    
               ExpandableListView
                    android:id="@+id/lvExp"
                    android:layout_height="match_parent"
                    android:layout_width="match_parent" 
    
    </LinearLayout> 

    4.Buat file xml baru yang sama-sama berada di bawah folder layout sehingga seperti di gambar atas. Beri 2 nama file tersebut list_group.xml dan list_item.xml.
    ketikkan kode berikut untuk list_group.xml
    <linearlayout android:background="#000000" 
    android:layout_height="wrap_content" 
    android:layout_width="fill_parent" 
    android:orientation="vertical" 
    android:padding="8dp" 
    xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android">
    
    
    <textview android:id="@+id/lblListHeader" 
    android:layout_height="wrap_content" android:layout_width="fill_parent"
    android:paddingleft="?android:attr/expandableListPreferredItemPaddingLeft" 
    android:textcolor="#f9f93d" 
    android:textsize="17dp">
    
    </textview></linearlayout>

    dan ketikkan kode berikut di list_item.xml
    <?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
    <LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
        android:layout_width="match_parent"
        android:layout_height="55dip"
        android:orientation="vertical" >
        <TextView
            android:id="@+id/lblListItem"
            android:layout_width="fill_parent"
            android:layout_height="wrap_content"
            android:textSize="17dip"
            android:paddingTop="5dp"
            android:paddingBottom="5dp"
            android:paddingLeft="?android:attr/expandableListPreferredChildPaddingLeft" />
    </LinearLayout>

    5.Buat file class baru dengan nama ExpandableListAdapter.java
    ketikkan kode berikut di ExpandableListAdapter.java


    package com.example.expandablelist;
    
    import java.util.HashMap;
    import java.util.List;
     
    import android.content.Context;
    import android.graphics.Typeface;
    import android.view.LayoutInflater;
    import android.view.View;
    import android.view.ViewGroup;
    import android.widget.BaseExpandableListAdapter;
    import android.widget.TextView;
     
    public class ExpandableListAdapter extends BaseExpandableListAdapter {
     
        private Context _context;
        private List _listDataHeader; // header titles
        // child data in format of header title, child title
        private HashMap> _listDataChild;
     
        public ExpandableListAdapter(Context context, List listDataHeader,
                HashMap> listChildData) {
            this._context = context;
            this._listDataHeader = listDataHeader;
            this._listDataChild = listChildData;
        }
     
        @Override
        public Object getChild(int groupPosition, int childPosititon) {
            return this._listDataChild.get(this._listDataHeader.get(groupPosition))
                    .get(childPosititon);
        }
     
        @Override
        public long getChildId(int groupPosition, int childPosition) {
            return childPosition;
        }
     
        @Override
        public View getChildView(int groupPosition, final int childPosition,
                boolean isLastChild, View convertView, ViewGroup parent) {
     
            final String childText = (String) getChild(groupPosition, childPosition);
     
            if (convertView == null) {
                LayoutInflater infalInflater = (LayoutInflater) this._context
                        .getSystemService(Context.LAYOUT_INFLATER_SERVICE);
                convertView = infalInflater.inflate(R.layout.list_item, null);
            }
     
            TextView txtListChild = (TextView) convertView
                    .findViewById(R.id.lblListItem);
     
            txtListChild.setText(childText);
            return convertView;
        }
     
        @Override
        public int getChildrenCount(int groupPosition) {
            return this._listDataChild.get(this._listDataHeader.get(groupPosition))
                    .size();
        }
     
        @Override
        public Object getGroup(int groupPosition) {
            return this._listDataHeader.get(groupPosition);
        }
     
        @Override
        public int getGroupCount() {
            return this._listDataHeader.size();
        }
     
        @Override
        public long getGroupId(int groupPosition) {
            return groupPosition;
        }
     
        @Override
        public View getGroupView(int groupPosition, boolean isExpanded,
                View convertView, ViewGroup parent) {
            String headerTitle = (String) getGroup(groupPosition);
            if (convertView == null) {
                LayoutInflater infalInflater = (LayoutInflater) this._context
                        .getSystemService(Context.LAYOUT_INFLATER_SERVICE);
                convertView = infalInflater.inflate(R.layout.list_group, null);
            }
     
            TextView lblListHeader = (TextView) convertView
                    .findViewById(R.id.lblListHeader);
            lblListHeader.setTypeface(null, Typeface.BOLD);
            lblListHeader.setText(headerTitle);
     
            return convertView;
        }
     
        @Override
        public boolean hasStableIds() {
            return false;
        }
     
        @Override
        public boolean isChildSelectable(int groupPosition, int childPosition) {
            return true;
        }
    }

    6. Setelah membuat adapter custom dari Revi Tamada tersebut, selanjutnya kita akan mengedit file MainActivity.java . Ketikkan seperti kode berikut ini :

    package com.example.expandablelist;
    
    import android.os.Bundle;
    import android.view.Menu;
    import android.view.MenuItem;
    
    import java.util.ArrayList;
    import java.util.HashMap;
    import java.util.List;
    import android.app.Activity;
    import android.os.Bundle;
    import android.view.View;
    import android.widget.ExpandableListView;
    import android.widget.ExpandableListView.OnChildClickListener;
    import android.widget.ExpandableListView.OnGroupClickListener;
    import android.widget.ExpandableListView.OnGroupCollapseListener;
    import android.widget.ExpandableListView.OnGroupExpandListener;
    import android.widget.Toast;
     
    public class MainActivity extends Activity {
     
        ExpandableListAdapter listAdapter;
        ExpandableListView expListView;
        List<String> listDataHeader;
        HashMap<String, List<String>> listDataChild;
     
        @Override
        protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
            super.onCreate(savedInstanceState);
            setContentView(R.layout.activity_main);
     
            // get the listview
            expListView = (ExpandableListView) findViewById(R.id.lvExp);
     
            // preparing list data
            prepareListData();
     
            listAdapter = new ExpandableListAdapter(this, listDataHeader, listDataChild);
     
            // setting list adapter
            expListView.setAdapter(listAdapter);
     
            // Listview Group click listener
            expListView.setOnGroupClickListener(new OnGroupClickListener() {
     
                @Override
                public boolean onGroupClick(ExpandableListView parent, View v,
                        int groupPosition, long id) {
                    // Toast.makeText(getApplicationContext(),
                    // "Group Clicked " + listDataHeader.get(groupPosition),
                    // Toast.LENGTH_SHORT).show();
                    return false;
                }
            });
     
            // Listview Group expanded listener
            expListView.setOnGroupExpandListener(new OnGroupExpandListener() {
     
                @Override
                public void onGroupExpand(int groupPosition) {
                    Toast.makeText(getApplicationContext(),
                           "Hari " + listDataHeader.get(groupPosition) + " dibuka",
                            Toast.LENGTH_SHORT).show();
                }
            });
     
            // Listview Group collasped listener
            expListView.setOnGroupCollapseListener(new OnGroupCollapseListener() {
     
                @Override
                public void onGroupCollapse(int groupPosition) {
                    Toast.makeText(getApplicationContext(),
                            listDataHeader.get(groupPosition) + " Collapsed",
                            Toast.LENGTH_SHORT).show();
     
                }
            });
     
            // Listview on child click listener
            expListView.setOnChildClickListener(new OnChildClickListener() {
     
                @Override
                public boolean onChildClick(ExpandableListView parent, View v,
                        int groupPosition, int childPosition, long id) {
                    
                 // TODO Auto-generated method stub
                    Toast.makeText(
                            getApplicationContext(),
                            listDataHeader.get(groupPosition)
                                    + " : "
                                    + listDataChild.get(
                                            listDataHeader.get(groupPosition)).get(
                                            childPosition), Toast.LENGTH_SHORT)
                            .show();
                    return false;
                }
            });
        }
     
        /*
         * Preparing the list data
         */
        private void prepareListData() {
            listDataHeader = new ArrayList<String>();
            listDataChild = new HashMap<String, List<String>>();
     
            // Adding child data
            listDataHeader.add("Senin  D.313");
            listDataHeader.add("Rabu   G.112 & G.129");
            listDataHeader.add("Kamis  E.349");
            listDataHeader.add("Jum'at G.127");
     
            // Adding child data
            List<String> senin = new ArrayList<String>();
            senin.add("Manajemen & SIM 2 : 7.30-9.30");
            senin.add("Math Lanjut 2     : 11.30-13.30");
            senin.add("Akuntansi 2       : 13.30-15.30");
            
     
            List<String> rabu = new ArrayList<String>();
            rabu.add("Teori Org. Umum 2 #    :  9.30-11.30");
            rabu.add("Math Sist. Informasi 2 : 12.30-14.30");
            rabu.add("Tek. Pemrog. Terstruktur 2 ** : 14.30-16.30");
         
     
            List<String> kamis = new ArrayList<String>();
            kamis.add("Struktur & Org. Data 2 * : 10.30-13.30");
            kamis.add("Pendidikan Agama Islam   : 13.30-15.30");
            
            List<String> jumat = new ArrayList<String>();
            jumat.add("Statistika 2 : 13.30-15.30");
            jumat.add("Sistem Operasi ** : 15.30-17.30");
            
     
            listDataChild.put(listDataHeader.get(0), senin); // Header, Child data
            listDataChild.put(listDataHeader.get(1), rabu);
            listDataChild.put(listDataHeader.get(2), kamis);
            listDataChild.put(listDataHeader.get(3), jumat);
        }
    }
     
    gotcha! semua kode sudah ditulis, sekarang saatnya kita intip hasilnya



    Thx to Revi Tamada !

    Kamis, 04 Desember 2014

    Merubah angka desimal koma ke biner

    Besok Sabtu ada UTS POAK, salah satu materinya merubah angka desimal yang ada komanya ke biner dan heksadesimal. Nah lho piye iki ??

    Di kelas si dosen juga ga banyak bisa jelasin tentang urutan cara yang benar untuk konversi angka seperti ini. Setelah ngalor-ngidul sama mbak maya, eh dunia maya maksudnya xD, dapet juga beberapa logika yang emang pas untuk angka desimal biner ini.

    Misalkan kita mau merubah angka 0.625(10) ke biner.
    Sebagaimana kita tahu, 0.625(10) = 6*10^-1 + 2*10^-2 + 5*10^-3
    dan untuk biner, 0.1101(2) = 1*2^-1 + 1*2^-2 + 0*2^-3 + 1*2^-4 = 1/2 + 1/4 + 0 + 1/16 = 13/16 = 0.8125

    Sekarang bagaimana jika kita ingin mengkonversi 0.571(10) ke biner ?
    (Misalkan kita ingin mendapatkan presisi 8 angka setelah koma)

    Step 1.
    hilangkan tanda koma, sehingga menjadi 571(10)

    Step 2.
    Kalikan 571(10) dengan 2^8 = 571 * 2^8 = 571(10) * 256(10) = 146176(10)

    Step 3.
    Bagi dengan 1000 (karena tadi di step 1 kita hilangkan komanya dengan mengalikan 1000, maka sekarang dikembalikan dengan membagi 1000)
    146176(10)/1000(10) = 146(10) dan sisanya tidak kita pakai lagi.

    Step 4.
    Rubah 146(10) ke biner
    146(10) = 10010010(2)
    Lalu letakkan koma di paling kiri, jadi =>  0.10010010(2)

    Sehingga 0.571(10) =  0.10010010(2) dengan presisi 8 digit.

    more info :
    1. lab_info

    Rabu, 12 November 2014

    Tata Cara Pendaftaran Kursus / Workshop Gunadarma

    Hayy .. dah lama ya ga post. Iseng post aja nih untuk kalian yang mau daftar kursus / workshop di gunadarma.

    Step :
    1. Cek dulu jadwal kursus yang mau diikuti. Bisa lewat situs lepkom atau datang ke loket kursus di gedung D.
    2. Kalo status kursus masih buka, segera mendaftar dengan datang langsung ke loket kursus di D (sorry lupa loket berapa xD)
    3. kasih KTM/KRS ke petugas kursus, ntar KTM/KRS akan "dipinjam" petugas. Habis itu kita dikasih blanko pembayaran kursus yang harus dibayar pada hari itu juga.
    4. Bayar blanko ke Bank DKI. Habis itu balik lagi ke loket kursus untuk ngasih blanko.
    5. KTMKRS kita akan dikembalikan. Lalu kita juga dapat surat formulir pendaftaran kursus yang SAH. 
    6. WAJIB datang di hari pertama kursus. 
    7. DONE.! 
    Saat ini saya lagi ikut kursus JAVA J2SE yang bayar 400ribu selama 5 hari. Selama 5 Hari itu ada 4 hari untuk kursus(Senin-Kamis) dan 1 hari untuk ujian. Ujiannya sih katanya ada ujian praktik sama tertulis.
    Semoga bisa lulus.. xD
    Wassalam.

    Rabu, 29 Oktober 2014

    Tugas 3 - Teori Organisasi Umum 1

    komunikasi

    1. Pengertian Komunikasi 
         Macam-macam teori tentang pengertian komunikasi adalah :
    1.  Teori Behaviorisme

    2. Tokoh aliran ini adalah John B. Watson (1878 – 1958) yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teorinya memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak balas (respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus - respons. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan juga psikoanalisis. Behaviorisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia kecuali
      instink adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Dari sinilah timbul konsep “manusia mesin” (Homo Mechanicus).

    3. Teori Humanisme

    4. Teori ini muncul diilhami oleh perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh McNeil (1977) “In many instances, communicative language programmes have incorporated educational phylosophies based on humanistic psikology or view which in the context of goals for other subject areas has been called the humanistic curriculum”
      Teori humanisme dalam pengajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum pengajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Kurikulum ini menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup siswa. Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa.
      Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat. "The deepest goal or purpose is to develop the whole persons within a human society". (McNeil,1977)

    5. Teori Informasi atau Matematis

    6. Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 ), Mathematical Theory of Communication.
      Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding).
      Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver, dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.

    7. Teori Agenda Setting

    8. Teori Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972).
      Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.

    9. Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)

    10. Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974).
      Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.
      Elemen dasar yang mendasari pendekatan teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): (1) Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinya dengan (2) berbagai kombinasi antara intra dan ekstra individu, dan juga dengan (3) struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan (4) berbagai percampuran personal individu, dan (5) persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut, yang menghasilkan (6) berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan, yang menghasikan (7) perbedaan pola konsumsi media dan ( perbedaan pola perilaku lainnya, yang menyebabkan (9) perbedaan pola konsumsi, yang dapat memengaruhi (10) kombinasi karakteristik intra dan ekstra individu, sekaligus akan memengaruhi pula (11) struktur media dan berbagai struktur politik, kultural, dan ekonomi dalam masyarakat.

    2. Unsur-Unsur Komunikasi
      A. SUMBER
      Sumber adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku, dokumen dan sejenisnya.
      B. KOMUNIKATOR
      Dalam kornunikasi, setiap orang atau kelompok dapat menyampaikan pesan-pesan komunikasi itu sebagai suatu proses dimana komunikator dapat menjadi kornunikan, sebaliknya komunikan dapat menjadi komunikator.
      C. PESAN
      Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator. Pesan ini mempunyai inti pesan yang sebenarnya menjadi pengarah di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Pesan dapat secara panjang lebar mengupas berbagai segi, namun inti pesan dari komunikasi akan selalu mengarah kepada tujuan akhir komunikasi itu.
      D. CHANNEL / SALURAN
      Chanel adalah saluran penyampaian pesan, biasa juga disebut dengan media. Media komunikasi dapat dikategorikan dalam dua bagian, yaitu media umum dan media massa. Media umum adalah media yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, contohnya radio dan sebagainya. Media massa adalah media yang digunakan untuk komunikasi massa. Disebut demikian karena sifatnya yang massal, misalnya televisi dan sebagainya.
      E. KOMUNIKASI
      Komunikasi dapat kita golongkan dalam tiga jenis, yaitu personal, kelompok, dan massa. Dari segi sasarannya maka komunikasi ditujukan atau diarahkan kedalam komunikasi personal, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa.
      F. EFEK
      Efek adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yaitu sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Apabila sikap dan tingkah laku orang lain itu sesuai maka itu berarti komunikasi berhasil, demikian pula sebaliknya. Efek ini sesungguhnya dapat dilihat dari personal opinion, publik opinion, dan majority opinion.

    3. Bagaimana menyalurkan ide melalui konunikasi.
      Komunikasi dalam organisasi sangat penting karena dengan adanya komunikasi maka seseorang bisa berhubungan dengan orang lain dan saling bertukar pikiran yang bisa menambah wawasan seseorang dalam bekerja atau menjalani kehidupan sehari-hari. Maka untuk membina hubungan kerja antar pegawai maupun antar atasan bawahan perlulah membicarakan komunikasi secara lebih terperinci.
      Dalam menyalurkan solusi dan ide melalui komunikasi harus ada si pengirim berita (sender) maupun si penerima berita (receiver). Solusi-solusi yang diberikan pun tidak diambil seenaknya saja, tetapi ada penyaringan dan seleksi, manakah solusi yang terbaik yang akan diambil, dan yang akan dilaksanakan oleh  organisasi tersebut agar mencapai tujuan, serta visi, misi suatu organisasi.

      Akan tetapi dalam prakteknya proses komunikasi harus melalui tahapan-tahapan yang kadang-kadang tidak begitu mudah. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

      1. IDE (gagasan) => Si Sender
      2. PERUMUSAN
      3. Dalam perumusan, disini ide si sender disampaikan dalam kata-kata.
      4. PENYALURAN (transmitting)
      5. Penyaluran ini adalah bisa lisan, tertulis, mempergunakan symbol, atau isyarat dsb.
      6. TINDAKAN
      7. Dalam tindakan ini sebagai contoh misalnya perintah-perintah dalam organisasi dilaksanakan.
      8. PENGERTIAN
      9. Dalam pengertian ini disini kata-kata si sender yang ada dalam perumusan tadi menjadi ide si receiver.
      10. PENERIMAAN
      11. Penerimaan ini diterima oleh si penerima berita (penangkap berita). 
         
      Dalam membina kerja sama dalam kelompok inilah yang nantinya digunakan dalam rangka membina koordinasi organisasi kesatuan gerak dan arah yang sesuai dengan arah dan tujuan organisasi.

      Agar tercapai koordinasi dalam kerjasama pada organisasi itu sangat penting dilaksanakannya komunikasi yang setepat-tepatnya dan seefektif mungkin sehingga koordinasi dan kerjasama benar-benar dapat dilaksanakan setepat-tepatnya juga.

      Suatu keputusan adalah rasional secara sengaja bila penyesuaian-penyesuaian sarana terhadap hasil akhir dicoba dengan sengaja oleh individu atau organisasi, dan suatu keputusan adalah rasional secara organisasional bila keputusan diarahkan ke tujuan-tujuan individual.

      Pengambilan keputusan juga sangat memerlukan komunikasi yang setepat-tepatnya, karena dalam akhir dari pengambilan keputusan tersebut hendaknya juga merupakan pencerminan dari adanya koordinasi dan kerjasama yang tercipta dalam lingkungan perusahaan atau lingkungan organisasi.
    4. Hambatan-hambatan komunikasi.
      Banyak hal yang bisa menghambat untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Menurut Leonard R.S. dan George Strauss dalam Stoner james, A.F dan Charles Wankel sebagaimana yang dikutip oleh Herujito (2001), ada beberapa hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu :

      1. Mendengar. Biasanya kita mendengar apa yang ingin kita dengar. Banyak hal atau informasi yang ada di sekeliling kita, namun tidak semua yang kita dengar dan tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah yang ingin kita dengar.

      2. Mengabaikan informasi yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui.

      3. Menilai sumber. Kita cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika ada anak kecil yang memberikan informasi tentang suatu hal, kita cenderung mengabaikannya.

      4. Persepsi yang berbeda. Komunikasi tidak akan berjalan efektif, jika persepsi si pengirim pesan tidak sama dengan si penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan pertengkaran, diantara pengirim dan penerima pesan.

      5. Kata yang berarti lain bagi orang yang berbeda. Kita sering mendengar kata yang artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita. Seseorang menyebut akan datang sebentar lagi, mempunyai arti yang berbeda bagi orang yang menanggapinya. Sebentar lagi bisa berarti satu menit, lima menit, setengah jam atau satu jam kemudian.

      6. Sinyal nonverbal yang tidak konsisten. Gerak-gerik kita ketika berkomunikasi – tidak melihat kepada lawan bicara, tetap dengan aktivitas kita pada saat ada yang berkomunikasi dengan kita-, mampengaruhi porses komunikasi yang berlangsung.

      7. Pengaruh emosi. Pada keadaan marah, seseorang akan kesulitan untuk menerima informasi. apapun berita atau informasi yang diberikan, tidak akan diterima dan ditanggapinya.

      8. Gangguan. Gangguan ini bisa berupa suara yang bising pada saat kita berkomunikasi, jarak yang jauh, dan lain sebagainya.

    5. Klasifikasi Komunikasi Dalam Organisasi
      Beberapa klasifikasi komunikasi dalam organisasi yang di tinjau dari beberapa segi :
      1. Dari segi sifatnya :
      2. a. Komunikasi Lisan
        komunikasi yang berlangsung lisan / berbicara
        cth: presentasi
        b. Komunukasi Tertulis
        komunikasi melalui tulisan
        Cth: email
        c. Komunikasi Verbal
        komunikasi yang dibicarakan/diungkapkan
        cth: curhat
        d. Komunikasi Non Verbal
        komunikasi yang tidak dibicarakan(tersirat)
        cth: seseorang yang nerves (gemetar)
      3.  Dari segi arahnya :
      4. a. Komunikasi Ke atas
        komunikasi dari bawahan ke atasan
        b. Komunikasi Ke bawah
        komunikasi dari atasan ke bawahan
        c. Komunikasi Horizontal
        komunikasi ke sesama manusia / setingkat
        d. Komunikasi Satu Arah
        pemberitahuan gempa melalui BMKG(tanpa ada timbal balik)
        e. Komunikasi Dua Arah
        berbicara dengan adanya timbal balik/ saling berkomunikasi
      5. Menurut Lawannya :
      6. a. Komunikasi Satu Lawan Satu
        berbicara dengan lawan bicara yang sama banyaknya
        cth:berbicara melalui telepon
        b. Komunikasi Satu Lawan Banyak (kelompok)
        ‏berbicara antara satu orang dengan suatu kelompok
        Cth: kelompok satpam menginterogasi maling
        c. Kelompok Lawan Kelompok
        berbicara antara suatu kelompok dengan kelompok lain
        Cth: debat partai politik
      7. Menurut Keresmiannya :
      8. a. Komunikasi Formal
        komunikasi yang berlangsung resmi
        cth: rapat pemegang saham
        b. Komunikasi Informal
        komunikasi yang tidak resmi
        cth : berbicara dengan teman
    6. Faktor – faktor perubahan Organisasi
      Secara garis besar faktor penyebab terjadinya perubahan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
      • Faktor ekstern
      • Faktor intern.

      • Faktor Ekstern

      • Adalah penyebab perubahan yang berasal dari luar, atau sering disebut lingkungan. Organisasi bersifat responsive terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya. Oleh karena itu, jarang sekali suatu organisasi melakukan perubahan besar tanpa adanya dorongan yang kuat dari lingkungannya. Artinya, perubahan yang besar itu terjadi karena lingkungan menuntut seperti itu. Beberapa penyebab perubahan organisasi yang termasuk faktor ekstern adalah perkembangan teknologi, faktor ekonomi dan peraturan pemerintah.

        Perkembangan dan kemajuan teknologi juga merupakan penyebab penting dilakukannya perubahan. Penggantian perlengkapan lama dengan perlengkapan baru yang lebih modern menyebabkan perubahan dalam berbagai hal, misalnya: prosedur kerja, kualitas dan kuantitas tenaga kerja, jenis bahan baku, jenis output yang dihasilkan, system penggajian yang diberlakukan yang memungkinkan jumlah bagian-bagian yang ada dikurangi atau hubungan pola kerja diubah karena adanya perlengkapan baru.

        Perkembangan IPTEK terus berlanjut sehingga setiap saat ditemukan berbagai produk teknologi baru yang secara langsung atau tidak memaksa organisasi untuk melakukan perubahan. Organisasi yang tidak tanggap dan bersedia menyerap berbagai temuan teknologi tersebut akan tertinggal dan pada gilirannya tidak akan sanggup survive.

      • Faktor Intern

      • Adalah penyebab perubahan yang berasal dari dalam organisasi yang bersangkutan, yang dapat berasal dari berbagai sumber antara lain:

        - Problem hubungan antar anggota,

        - Problem dalam proses kerja sama,

        - Problem keuangan.

        Hubungan antar anggota yang kurang harmonis merupakan salah satu problem yang lazim terjadi. Dibedakan menjadi dua, yaitu: problem yang menyangkut hubungan atasan bawahan (hubungan yang bersifat vertikal), dan problem yang menyangkut hubungan sesama anggota yang kedudukannya setingkat (hubungan yang bersifat horizontal). Problem atasan bawahan yang sering timbul adalah problem yang menyangkut pengambilan keputusan dan komunikasi. Keputusan pimpinan yang berkenaan dengan system pengupahan, misalnya dianggap tidak adil atau tidak wajar oleh bawahan, atau putusan tentang pemberlakuan jam kerja yang dianggap terlalu lama, dsb. Hal ini akan menimbulkan tingkah laku anggota yang kurang menguntungkan organisasi, misalnya anggota sering terlambat. Komunikasi atasan bawahan juga sering menimbulkan problem. Keputusannya sendiri mungkin baik tetapi karena terjadi salah informasi, bawahan menolak keputusan pimpinan. Dalam hal seperti ini perubahan yang dilakukan akan menyangkut system saluran komunikasi yang digunakan.

        Problem yang sering timbul berkaitan dengan hubungan sesame anggota organisasi pada umumnya menyangkut masalah komunikasi dan kepentingan masing-masing anggota.

        Proses kerja sama yang berlangsung dalam organisasi juga kadang-kadang merupakan penyebab dilakukannya perubahan. Problem yang timbul dapat menyangkut masalah system kerjasamanya dan dapat pula menyangkut perlengkapan atau peralatan yang digunakan. Sistem kerja sama yang terlalu birokratis atau sebaliknya dapat menyebabkan suatu organisasi menjadi tidak efisien. System birokrasi (kaku) menyebabkan hubungan antar anggota menjadi impersonal yang mengakibatkan rendahnya semangat kerja dan pada gilirannya produktivitas menurun, demikian sebaliknya. Perubahan yang harus dilakukan akan menyangkut struktur organisasi yang digunakan.

        Perlengkapan yang digunakan dalam mengolah input menjadi output juga dapat merupakan penyebab dilakukannya perubahan. Tujuan penggunaan berbagai perlengkapan dan peralatan dalam proses kerjasama ialah agar diperoleh hasil secara efisien.

    7. Proses perubahan
      Perubahan Organisasi adalah suatu proses dimana organisasi tersebut berpindah dari keadaannya yang sekarang menuju ke masa depan yang diinginkan untuk meningkatkan efektifitas organisasinya. Tujuannya adalah untuk mencari cara baru atau memperbaiki dalam menggunakan resources dan capabilities dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam menciptakan nilai dan meningkatkan hasil yang diinginkan kepada stakeholders.
      Menurut Desplaces (2005) perubahan yang terjadi dalam organisasi seringkali membawa dampak ikutan yang selalu tidak menguntungkan. Bahkan menurut Abrahamson (2000), perubahan itu akan menimbulkan kejadian yang “dramatis” yang harus dihadapi oleh semua warga organisasi. Desplaces (2005) mengutip kajian yang dilakukan Poras dan Robertson's (1992) menyatakan bahwa kebijakan perubahan yang dilakukan oleh organisasi hanya memberikan manfaat positif bagi organisasi sebesar 38%. Meskipun perubahan organisasi tidak langsung memberikan manfaat yang besar bagi kemajuan organisasi, namun beberapa praktisi tetap meyakini tentang pentingnya suatu organisasi untuk melakukan perubahan.
      Proses Perubahan Organisasi Proses terjadinya suatu perubahan di dalam organisasi meliputi enam tahap, hal ini diungkapkan oleh L.C. Megginson, Donald C.M. dan Paul H.P.,Jr. seperti dikutip oleh T.Hani Handoko. Adapun tahap-tahap tersebuat adalah sebagai berikut:
      1) Tekanan dan Desakan. Pada tahap ini manajemen tingkat atas mulai merasakan adanya masalah, tekanan, desakan dan kebutuhan akan suatu perubahan. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan produktivitas, volume penjualan dan laba, perputaran tenaga kerja tinggi dan kalahnya persaingan produk dipasaran, dan sebagainya. 
      2) Intervensi dan Reorientasi. Setelah merasakan adanya tekanan dan desakan, para manajer mulai mencoba berusaha menyelesaikannya dengan mencari dan menentukan serta merumuskan permasalahan, untuk itu mereka biasanya menyewa seseorang atau beberapa konsultan atau bisa juga pihak internal (karyawan perusahaan) sebagai pengantar perubahan. 
      3) Diagnosa dan Pengenalan Masalah. Pada tahap ini pengantar perubahan mulai mengumpulkan berbagai informasi (data), kemudian menganalisanya. Masalah yang paling penting dikenali dan diperhatikan untuk dipecahkan. 
      4) Penemuan dan Komitmen penyelesaian Pada tahap ke empat ini, pengantar perubahan dan merangsang pemikiran, kretivitas serta mulai meninggalkan “metode-metode kerja lama”, menggantinya dengan mtode-metode baru yang lebih afektif. Begitu juga untuk penyesuaian dibuatlah rencana program-program latihan, keterampilan, peningkatan wawasan, dll. 
      5) Percobaan dan Pencarian Hasil. Setelah alternatif terbaik untuk penyelesaian ditemukan dan dikembangkan, selanjutnya diadakan percobaan penerapannya untuk diketahui hasilnya. 
      6) Penguatan dan Penerimaan. Pada tahap ini, setelah penerapan program-program kegiatan dalam rangka penyesuaian dengan perubahan ataupun pengembangannya telah berhasil dan sesuai dengan keinginan, maka kegiatan untuk perubahan tersebut diusahakan harus diterima oleh para karyawan dan menjadi penguat yang dapat mengikat semua karyawan pada perubahan.

    8. Ciri-ciri pengembangan Organisasi
      1. Merupakan strategi terencana dalam mewujudkan perubahan organisasional, yang memiliki sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang tepat dan akurat tentang permasalahan yang dihadapi oleh suatu organisasi.
      2. Merupakan kolaborasi antara berbagai pihak yang akan terkena dampak perubahan yang akan terjadi terhadap suatu organisasi.
      3. Menekankan cara-cara baru yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja seluruh organisasi dan semua satuan kerja dalam organisasi. 
      4. Mengandung nilai humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi bagian terpenting. 
      5. Menggunakan pendekatan komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya interaksi, interaksi dan interdependensi antara organisasi sau dengan organisasi yang lainnya. 
      6. Berbagai satuan kerja sebagai bagian integral di suasana yang utuh. 
      7. Menggunakan pendekatan ilmiah dalam upaya meningkatkan efektivitas organisasi.

      Apabila selama ini kita hanya mengenal pembelajaran pada tingkat individu dan kelompok, maka perkembangan manajemen telah mengenal pembelajaran organisasi (learning organization), yang secara sederhana dapat diartikan sebagai Organisasi yang secara terus menerus melakukan perubahan diri agar dapat mengelola pengetahuan lebih baik lagi, memanfaatkan tekhnologi, memberdayakan sumber daya, dan memperluas area belajarnya agar mampu bertahan di lingkungan yang selalu berubah.

    9. Metode Pengembangan Organisasi
      Ada berbagai teknik yang dirancang para ahli, dengan tujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta bekerja secara efektif antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi. Beberapa teknik yang sering digunakan berikut ini.
      a. Sensitivity Training; merupakan teknik pengembangan organisasi yang pertama diperkenalkan dan yang paling sering digunakan. Teknik ini sering disebut juga T-group atau training group, group disini berarti peserta terdiri atas 6-10 orang, pemimpin kelompok membimbing peserta meningkatkan kepekaan (sensitivity) terhadap orang lain, serta keterampilan dalam hubungan antar pribadi. 
      b. Team Building; adalah pendekatan yang bertujuan memperdalam efektifitas serta kepuasaan tiap individu dalam kelompok kerjanya. Teknik team building sangat membantu meningkatkan kerjasama dalam tim yang menangani proyek. 
      c. Survey Feedback; dalam teknik survey ini tiap peserta diminta menjawab kuesioner yang dimaksud untuk mengukur persepsi serta sikap mereka (misalnya persepsi tentang kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan mereka). Hasil survey ini diumpan balikkan pada setiap peserta, termasuk para penyelia dan manajer yang terlibat. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan kuliah atau lokakarya yang mengevaluasi hasil keseluruhan dan mengusulkan perbaikan-perbaikan konstruktif. 
      d. Transcational Analysis (TA); teknik ini berkonsentrasi pada gaya komunikasi antar individu. TA dimaksudkan untuk mengurangi kebiasaan komunikasi yang buruk dan menyesatkan. Oleh sebab itu, teknik ini mengajarkan cara penyampaian pesan yang jelas dan bertanggung jawab dengan wajar dan menyenangkan. 
      e. Intergroup Activities; fokus dalam teknik intergroup activities adalah peningkatan hubungan baik antar kelompok. Dimana ketergantungan antar kelompok yang membentuk kesatuan organisasi dapat menimbulkan banyak masalah dalam koordinasi. Karenanya, intergroup activities dirancang untuk meningkatkan kerjasama atau pemecahan konflik yang mungkin timbul akibat saling ketergantungan tersebut. 
      f. Process Consultation; dalam process consultation konsultan pengembangan organisasi mengamati komunikasi, pola pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan, kerjasama, dan pemecahan konflik dalam tiap unit organisasi. Kemudian konsultan memberikan umpan balik pada semua pihak yang terlibat tentang proses yang telah diamatinya, serta menganjurkan tindakan koreksi. 
      g. Third-part Peacemaking; dalam menerapkan teknik ini, konsultan pengembangan organisasi berperan sebagai pihak ketiga yang memanfaatkan berbagai cara menengahi sengketa, serta berbagai teknik negosiasi untuk memecahkan persoalan atau konflik antar individu dan kelompok.

    10. Pengertian Kepemimpinan
      Menurut sejarah, masa “kepemimpinan” muncul pada abad 18. Ada beberapa pengertian kepemimpinan, antara lain:
    1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
    2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7). 
    3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling,1984, 46). 
    4. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
    5. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).

    6. Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.

    11. Tipe-tipe Kepemimpinan
    1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
    2. Tipe kepemimpinan kharismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
    3. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
    4. Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu bersikap maha tahu dan maha benar. Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
    5. Tipe Kepemimpinan Militeristik
    6. Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi hanya berlangsung searah.
    7. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
    8. Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
    9. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
    10. Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
    11. Tipe Kepemimpinan Populistis
    12. Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
    13. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
    14. Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
    15. Tipe Kepemimpinan Demokratis
    16. Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.

    12. Teori-Teori Kepemimpinan
    1. Great Man Theory
    2. Menurut teori kepemimpinan ini seorang pemimpin besar terlahir sebagai pemimpin yang yang memiliki ciri-ciri yang istimewa yang mencakup: karisma, kecerdasan, kebijaksanaan dan dapat menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat berbagai keputusan yang memberi dampak besar bagi sejarah manusia. Kharisma sendiri menunjukkan kepribadian seseorang yang dicirikan oleh pesona pribadi, daya tarik, yang disertai dengan kemampuan komunikasi interpersonal dan persuasi yang luar biasa.
      Teori kepemimpinan ini sebagian besar bersandar pada pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Thomas Carlyle di abad 19 yang pernah menyatakan bahwa sejarah dunia tak lain adalah sejarah hidup orang-orang besar. Menurutnya, seorang pemimpin besar akan lahir saat dibutuhkan sehingga para pemimpin ini tidak bisa diciptakan.
    3. Trait Theory
    4. Teori kepemimpinan ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Great Man Theory yang mengatakan bahwa para pemimpin dilahirkan dan bukan diciptakan (leader are born and not made). Tetapi sejalan dengan pemikiran mahzab behavioralis, pada peneliti di tahun 1950-an berkesimpulan bahwa karakteristik pemimpin tidak seluruhnya merupakan bawaan sejak lahir, namun diperoleh melalui pembelajaran dan pengalaman. Karena itu mereka berkesimpulan bahwa kepemimpinan yang efektif dapat dipelajari.
      Riset mereka menunjukkan bahwa ada karakteristik individu yang dimiliki oleh seorang pemimpin sehubungan dengan kepemimpinan efektif, yaitu: Kecerdasan, Pengetahuan & keahlian, Dominasi, Percaya diri, energi yang tinggi, Toleran terhadap stress, Integritas & kejujuran, Kematangan.
    5. Teori Perilaku (Behavior Theories)
    6. Selama perang dunia II studi mengenai teori kepemimpinan mengalami perubahan arah yang signifikan dari mempelajari ciri-ciri individu menjadi pola perilaku pemimpin yang disebut dengan leadership styles. Dengan demikian maka fokus beralih dari “siapa pemimpin itu” menjadi “bagaimana seorang pemimpin berperilaku atau menjalankan gaya kepemimpinan”
    7. Teori Kontingensi atau Teori Situasional
    8. Para peneliti yang menganut aliran teori kepemimpinan ini mengatakan bahwa efektivitas gaya kepemimpinan sangat tergantung kepada situasi yang melingkupinya. Oleh karena itu, mereka mempunyai asumsi bahwa kepemimpinan yang berhasil akan terjadi apabila gaya kepemimpinan yang digunakan sesuai dengan situasi. Salah satu peneliti yang mendukung teori kepemimpinan ini adalah Fred E Fiedler dengan teori Kontingensinya: Kinerja seorang pemimpin bergantung kepada dua faktor yang saling terhubung yaitu:
      1. Situasi, sejauh mana situasi yang ada memberikan kendali & pengaruh agar pekerjaan dapat diselesaikan
      2. Motivasi, apa motivasi dasar dari pemimpin. Apakah self esteem-nya tergantung dari penyelesaian tugas (task motivated) atau hubungan (relationship motivated).
      Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pemimpin yang task motivated cenderung berhasil pada situasi yang ekstrem. Sedangkan relationship motivated cenderung berhasil pada situasi yang moderat. 
    9. Transactional Leadership Theory
    10. Menurut teori kepemimpinan ini, karyawan akan termotivasi oleh imbalan maupun hukuman. Seorang pemimpin akan dapat menjalankan kepemimpinannya dengan efektif apabila ia mampu mengembangkan struktur kerja yang jelas sehingga para manajer akan dapat merumuskan dengan jelas apa yang harus mereka lakukan dan dibutuhkan oleh para bawahannya serta memberi imbalan sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Demikian pula sebaliknya, dalam teori kepemimpinan ini, sang manajer dapat memberikan hukuman bila karyawan tidak berhasil memenuhi standar kinerja yang diberikan kepadanya.
    11. Transformational Leadership Theory
    12. Teori kepemimpinan ini didasari oleh hasil penelitian mengenai perilaku kepemimpinan di mana para pemimpin yang kemudian dikategorikan sebagai pemimpin transformasi (transformational leader) mampu memberikan inspirasi kepada yang lain dalam organisasi untuk mencapai sesuatu yang melebihi apa yang telah direncanakan organisasi. Ia juga seorang pemimpin yang visioner yang mengajak orang lain bergerak untuk mengikuti visinya. Mereka mengandalkan karisma dan kewibawaan (refferent power) dalam menjalankan kepemimpinannya.


    Sumber :
    [1] Teori Komunikasi. http://www.academia.edu/6548719/TEORI_KOMUNIKASI_COMMUNICATION_THEORY 
    [2] Yusrizal. Hambatan-hambatan dalam Berkomunikasi.  http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2009/10/13/hambatan-hambatan-dalam-komunikasi/
    [3] Komunikasi dalam Organisasi. http://beruangkaki5.blogspot.com/2012/06/komunikasi-dalam-organisasi.html
    [4] Unsur-unsur Komunikasi. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/komunikasi_bisnis/bab4-unsur_unsur_komunikasi.pdf
    [5] Faktor-Faktor Perubahan Organisasi. http://idadwiw.wordpress.com/2011/12/18/faktor-faktor-perubahan-organisasi/
    [6] Perubahan Organisasi. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/128308-T%2026591-Analisis%20kesiapan-Metodologi.pdf
    [7] Perubahan Organisasi. http://fauziah-youngentrepreneur.blogspot.com/2011/09/perubahan-organisasi.html
    [8] Ciri-Ciri Pengembangan Organisasi. http://rosdianya.wordpress.com/2011/12/20/ciri-ciri-pengembangan-organisasi/
    [9] Zulfiana Rhmawati,dkk. Universitas Brawijaya. http://ymayowan.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/kel.7-makalah-pengembangan-organisasi.docx
    [10] Turmudi. Kepemimpinan. https://masturmudi.files.wordpress.com/2010/08/kepemimpinan.pdf
    [11] Tipe-Tipe Kepemimpinan. http://belajarpsikologi.com/tipe-tipe-kepemimpinan/
    [12] Muh Azis Muslim. Teori Kepemimpinan. http://directory.umm.ac.id/Networking%20Manual/computer_network_books/TEORI+KEPEMIMPINAN.ppt
    [13] Teori Kepemimpinan. http://quickstart-indonesia.com/teori-kepemimpinan/